Hari ke hari rasanya seperti menjadi robot yang menjalankan tugas. Kuliah, resume, rapat, proker, karya tulis, memang berjalan lurs lurus saja. Dari senin sampai akhirnya hari sabtu ini.
Sebenarnya apa
yang sedang aku lakukan? Untuk apa ini semua? Sekedar mengisi hidup dengan
target yang membosankan. Terlebih semuanya dilakukan di rumah. Ya, sindrom itu,
atau apalah nama sebutannya, sepertinya datang lagi. Lebih parah lagi, kali ini
tidak ada yang bisa aku ajak sekedar keluar dan menikmati cemilan atau minuman
dari kafe yang menawarkan tempat yang bagus dan tidak lupa music yang disetelnya
dari youtube atau spotify.
Rasanya seperti
tidak punya siapa-siapa yang bisa aku ajak. Ha! Lucu, padahal memang nyatanya
seperti itu. Atau mungkin aku yang segan untuk meminta. Segan karena saat ini tak
ada orang yang benar-benar membuatku nyaman untuk sekedar melontar pertanyaan “keluar
yuk?”. Jadilah twitter dan instargram yang kadang-kadang jadi bahan tertawaan
dari lelucon mereka yang bahkan tidak aku kenal. Sebentar tertawa lalu terdiam
karena sadar tidak ada yang bisa aku ajak tertawa Bersama. Lalu sedih itu
datang lagi, begitu seterusnya sampai aku Lelah dan terlelap. Kata yang bisa
mewakili sore ini mungkin hanya satu. Hampa.
Terdengar klise,
sok puitis atau lebay, yup you name it. Tapi rasanya seperti mau menggila.
Beberapa waktu
lalu, masih ada segelintir orang yang bisa aku percaya. Tapi sepertinya terlalu
banyak sampai aku merasa dikhianati oleh kepercayaanku sendiri. Iya, terlalu
mempercayai manusia memang dapat berujung buruk. Atau baik. Tapi banyaknya
buruk.
Sepertinya lebih
menyenagkan tidak percaya siapapun. Berdiri sendiri di seutas tali yang tipis. Merasakan
jatuh dan tebang seorang diri. Tidak percaya siapapun bukankah termasuk diri
sendiri? Entahlah.
Terimakasih supernova,
berkatnya aku kembali semangat menulis setidaknya tentang apa yang aku rasakan.
Tentang pagi,siang,sore dan malamku untuk diriku sendiri.
Sebut saja aku
si kufur nikmat. Tidak pandai melihat sekitar, tidak punya mata melihat yang di
depan. Bukankah ada yang sedang menunggu? Bukankah itu kesempatanku?
Tapi ini
seperti bermain lotere, sekali menang kau dapat gunung emas, tapi kalau kalah
menangis sampai lemas. Pertanyaannya, seberapa besar peluangnya? Seberapa besar
peluang untuk menang? Seberapa besar peluang keberhasilan? Pun data historis menyebutkan
90% akan gagal, lalu bisa apa kalau tuhan maunya yang 10% ?
Sekali lagi, sebut
aku si kufur nikmat. Sebab aku memilih pergi dari tempat lotere dan meninggalkan
segala probabilitas.
Tapi hidup ini tempatnya
berdagang, siapa jual apa dan dapat imbalan apa. Memilih untuk tidak percaya
siapapun adalah sama harganya dengan kebalikannya. Rasanya kosong dan hampa,
tawar. Bukankah rasanya sama dengan sakitnya dikhianati? Atau bahkan lebih
baik? Nilai 0 selalu lebih tinggi dibandingkan -1.
Bayangkan rasanya
berada ditengah banyak manusia, yang dipercaya. Lalu satu per satu pergi. Pada akhirnya
kita memang selalu sendiri bukan?
Jadi, which pill
you pick?
Having nobody
dengan kehidupan tanpa rasa, atau percaya manusia yang sewaktu-waktu let you
down.
Jawabannya adalah
tidak tahu,
Aku tidak mau
menyalahkan seseorang atas masalah kepercayaan ini. tidak ada yang patut
dikambing-hitamkan selain cara pandang ku sendiri. Meskipun hal itu mungkin
dipicu oleh peristiwa yang melibatkan manusia di tempat dan waktu tertentu.

0 comments