SEPERTI DENDAM HARUS DIBAYAR TUNTAS : SIAPA YANG BERTANGGUNGJAWAB DAN METAFORA DIDALAMNYA




SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS ; siapa yang bertanggung jawab?

Akhirnya film yang ditunggu tunggu rilis di Netflix!!

Singkat cerita, karena gedung bioskop di kabupaten tercinta ini Cuma ada satu.. jadi film yang tanyang terbatas dan salah satu yang gak tayang itu adalah SDRHDT ini. Kecewa banget rasanya gak bisa nonton film lokal berkelas dunia ini di layar lebar. Tapi dalam hati terus berdoa semoga film ini bisa rilis di layanan streaming online. Dan ternyata doanya terjawab!!

Pertama-tama apa sih yang bikin film ini menarik bahkan sebelum nonton trailernya?

Satu, ini film adaptasi dari novel Eka Kurniawan dengan judul yang sama. EKA KURNIAWAN. Karya-karyanya berupa novel fiksi yang juga mencampurkan unsur sejarah didalamnya. Cantik Itu Luka merupakan novel beliau yang pertama aku baca. Bayangkan seorang anak SMP membaca novel se-vulgar dan se-kasar itu. Tapi seiring bertambahnya usia, jadi makin paham kalau memang gaya menulis beliau seperti itu. Nah yang bikin penasaran, apakah adaptasi filmnya juga akan sekeras dan sevulgar itu?



Kedua, tentu karena film memenangkan penghargaan sebagai film terbaik di festival film Locarno. Is it deserve?

Garis besar yang mau ditunjukan oleh penulis disini adalah isu toxic masculinity yang berada di tengah masyarakat kita (Indonesia) era 80an. Hal itu ditunjukan oleh si tokoh utama bernama Ajo Kawir. Seorang pemuda asal Bojongsoang, yang suka berkelahi tanpa takut apapun, karena ia tidak bisa ngaceng. Iya ngaceng dalam arti kemaluannya tidak bisa melakukan ereksi. Di jaman langkanya pengetahuan tentang seksualitas, hal itu menjadi momok yang menakutkan bagi Ajo dan orang-orang di sekelilingnya. Berbagai cara dilakukan Ajo untuk mengembalikan “kejantanannya” namun selalu berakhir sia-sia.



Lupakan review sebelumnya, di review kali ini yang akan dibahas adalah metafora tokoh-tokoh utama hasil interpretasi pribadi. Ingat, pribadi. Kalau ada yang tidak setuju tidak apa-apa.

Pembahasan ini diawali dengan pertanyaan, siapakah yang bertanggung jawab atas segala konfilk di film ini?

Sumber masalah dan yang bertanggungjawab atas semua konflik yang terjadi di film SDRHDT adalah paman gembul.

Coba kita Tarik ke belakang,

Jika paman gembul tidak pernah ada >> suami rona merah tidak mati >> rona merah tidak jadi janda gila >> codet dan kawannya tidak datang ke rumah rona merah >> peristiwa di hari gerhana matahari tahun 1983 tidak terjadi >> Ajo kawir tidak punya pengalaman traumatis yang menyebabkan ia kehilangan kemampuan berereksi >> Iteung tidak berselingkuh dengan budi baik sebab ajo kawir dapat memberikan apa yang iteung butuhkan >> ajo dan iteung hidup bahagia >> dendam pun rindu tidak penah ada.

ATAUUU

Ajo tidak pernah bertemu dengan Iteung karena Ajo bukan lagi menjadi Ajo.

Pemuda biasa yang bisa ereksi dan menjalani hidupnya dengan biasa tanpa banyak berkelahi untuk menyalurkan adenalinnya.

Seandainya paman gembul tidak pernah ada.

LALUU

Siapa Jelita?

Makhluk meisterius ini sengaja dibuat absurd agar penonton atau pembaca punya interpretasi sendiri tentangnya. Bagiku sendiri, jelita bisa diinterpretasikan menjadi 3 hal ;

Satu, sebagai jelmaan dendam Ajo kawir. Ajo bertemu dengan jelita disaat ia menjadi supir truk antar provinsi dan terus mengikutinya. Selayakanya dendam yang terus melekat pada diri Ajo. Jelita baru pergi dari Ajo setelah Iteung berhasil membunuh pelaku pelecehan seksual Ajo di masa lalu, Codet dan temannya. Dendam itu akhirnya terbalaskan dan jelita pergi.

Dua, sebagai jelamaan dendam Iteung atas kejadian yang ia alami di usianya yang baru 11 tahun.  Hal itu ditunjukan dengan jelita yang bercerita kepada ajo kawir di malam hari saat ia sedang beristirahat di dalam truk. Jelita bercerita tentang seorang gadis yang diperkosa oleh gurunya, pak Toto. Gadis penuh nekat itu dengan berani menginjak-injak burung gurunya hingga berdarah-darah. Ketika Ajo bertanya siapa namanya, Jelita tidak menyebutnya karena lupa. Tapi jelita bilang, “kau boleh panggil gadis itu jelita”. Jelita, sisi rapuh dari iteung yang begitu tangguh.

Tiga, sebagai jelmaan dendam Rona merah, seorang janda gila yang sering didatangi codet dan kawannya. Setelah melihat suaminya mati ditembak di depan kedua matanya sendiri, Rona merah harus menghadapi pengalaman buruknya dengan bajingan seperti codet. Rona merah menderita hingga akhir hayatnya. Maka jelita hadir saat Iteung mendatangi rumah Rona merah. Rumahnya telah hancur, tapi jelita masih bertengger disana. Jelas dendam yang pekat masih bersarang disana.

Pada akhirnya, Jelita hanyalah jelmaan dari dendam-dendam pahit yang melekat pada diri manusia.

LALUU

Siapa Iteung?

Iteung adalah representasi dari emosi. Sisi manusia yang selalu memiliki nafsu besar untuk sebuah pembalasan. Sisi manusia yang bernyali besar, rela melakukan apapun demi yang dicinta. Lantas apakah iteung sempurna untuk dikatakan pecinta? Tidak. Iteung hanya perempuan dengan segala luka dibelakangnya, mencoba sekuat tenaga memperjuangkan bunga hatinya. Iteung hanya perempuan yang juga masih memiliki hasrat, salah yang membuatnya terperosok ke jurang pengkhianatan. Iteung adalah perempuan. Iteung adalah manusia.

Dan terakhir..

Siapa Ajo?

Ajo adalah bentuk penerimaan diri. Ajo dengan hati yang begitu besar dan lapang tidak berniat sungguh-sungguh membalas lukanya. Ia bahkan tak terlalu peduli dengan segala pengobatan yang keluarganya betul-betul usahakan. Yang ia tau dan mau hanya kelahi dan tentu saja Iteung. Baginya, bisa bersama Iteung sepanjang hidupnya sudah lebih dari apapun. Tapi apakah Ajo sempurna untuk dikatakan ikhlas? Tidak. Dunianya hancur saat tau Iteung hamil oleh Budi Baik. Ajo marah dan terus marah, memukul-mukul tembok dengan tangan kosong. Tapi seiring waktu Ajo pulih. Ajo memilih untuk menerima sakit yang begitu hebat dan kembali kepada Iteung. Tentu saja hal itu tidak terjadi begitu saja. Sekali lagi, hidup dan berkehidupan banyak mengajarkan Ajo. Hal itu yang membuat Ajo adalah laki-laki. Ajo adalah manusia.

Satu persatu, Iteung membalaskan dendam Ajo. Hingga tuntas dan purna sudah tugas Iteung. Iteung pulang.

Rindu yang selama ini menggunung di hati Ajo, tertutup kabut benci namun cinta. Kini kabut itu sirna. Menyisakan Ajo yang bergegas pulang.

Ajo dan Iteung kembali bertemu, di satu siang yang biasa. Di depan rumah kecil mereka. Bercumbu begitu hebat.

Tapi mereka lupa, setiap pembalasan akan ada pertanggungjawaban.

Kisah mereka berakhir begitu polisi datang menyeret Iteung. Sekali lagi, Iteung dengan tegar memandang Ajo untuk terakhir kalinya. Pun Ajo yang kebingungan setengah mati.

Iteung dan Ajo.

Pahlawan kisah cintanya masing-masing. Heroik dan ciamik. Sebab tidak ada akhir untuk cerita ini. Yang ada hanya awal yang baru.

Bagaimana paman gembul? Ia dibunuh oleh dendam itu sendiri. Dendam yang menjelma menjadi Jelita.

--------------------------------------------

Jadi untuk menjawab pertanyaan diatas,

Satu, iya film ini ternyata sevulgar dan sekeras itu. Meskipun tidak sedetail novelnya, tapi film ini berhasil membangun suasana tahun 80an dengan genre laga dan drama.

Dua, tentu saja film ini pantas mendapat penghargan karena sinemantografi nya yang (menurut orang awam) superrr bagus dan acting pemainnya yang luar biasa. Bravo! Jaya terus perfilman Indonesia!



Terakhir, selamat menonton!!

 

 

 


0 comments