#CeritanyaReview : JATUH CINTA SEPERTI DI FILM-FILM

 


 

Haii!!

How its going since my last review, fellas? I hope you guys doing well :)

Review kali ini adalah bentuk penghargaan dari seorang penonton awam kepada film dengan genre romantis terbaik sejauh ini. Ya, genre yang paling dihindari dan dibenci karena terlalu banyak hal utopis yang gak realistis. But, this will be different.

Sejak hari pertama film ini rilis, gak pernah ada rencana nonton langsung di bioskop. It just me underestimate any movies related to romatic. (*duh hopeless romantic?!). Tapi karena ajakan dari temen yang gak bisa ditolak, akhirnya kita meluncur kedalam kolam bernama XXI studio 2 di daerah Kuningan.





Film berdurasi 118 menit ini punya premis yang cukup sederhana. Bercerita tentang seorang penulis naskah film yang mengejar kekasih hati saat SMA, dimana kala itu pujaan hatinya baru saja menjanda ditinggal mati suaminya. Sederhana tapi cara penulis sekaligus sutradara ini menyampaikan pesannya, is quite uniqe. Setelah menggarap film remake “Keluarga Cemara”, Yandy Laurens mencoba membuat karya originalnya sendiri yang cukup berani mendobrak preferensi mainstream penonton. Salah satu langkah besarnya adalah membuat film ini hitam-putih. Tidak cukup disitu, Yandy si penulis membuat cerita tentang seorang penulis pula yang sedang menulis naskah film. Pusing? iya betul. Christopher Nolan bilang ini namanya script-interception. Kalau diperhatikan, film ini lebih seperti cermin besar yang saling merefleksikan setiap lapisan karakter penulis. In that reason, I appreciate the writer/director for the idea.

So how’s the plot?

Semula kita akan diajak mengikuti plot lurus tanpa twisting sama sekali. Seperti bayi yang dituntun berjalan, selangkah demi selangkah. Berawal dari seorang penulis yang mencoba pitching naskah film, dimana ia akan menceritakan kisah cintanya sejak awal pertemuannya kembali dengan si kekasih hati setelah sekian lama tidak berjumpa. Film ini dengan “telanjang” memperlihatkan bagaimana proses produksi sebuah film, termasuk bagaimana plot cerita dalam film itu dibangun. Dalam kisahnya, si penulis akan menyusun naskah sesuai dengan apa yang terjadi selama setahun kedepan bersama si tokoh utama alias kekasih hatinya. Namun sayang, produser film membuat semua rencana si Penulis berubah menjadi bencana. Naskah harus diselesaikan dalam waktu satu minggu, and so hal ini menjadi awal mula konflik sekaligus turning point pengembangan karakter. Tapi tenang, karena diakhir cerita the writer serve us some surprise element. Plot yang disusun sejak awal menuntun kita, ternyata bukan plot yang sebenarnya. See? I told you, how expensive the idea.

What should we expect?

As the title of this movie, “Jatuh cinta seperti di film-film”. Penulis yakin bahwa di umurnya yang hampir 40 tahun ini, bisa menciptakan kisah romansa yang lebih baik dari anak muda. Namun apa yang diyakini oleh kekasihnya tentu saja berbeda dengan keadaan duka yang masih mendalam.

Pertama, kalau masih berharap film ini akan memberikan adegan yang penuh dengan gejolak dan hasrat selayaknya “jatuh cinta” pada film kebanyakan, you better go back and watch another movies. Adegan film ini hampir 80%nya adalah dialog intens. Kalau boleh dibilang, film ini bisa masuk kategori 18+ not because of the explicit content, but how deep the conversation is going. Di umur “se-tua” ini ternyata kita bisa tetap nyaman menonton adegan yang tidak banyak memberikan impulse, namun justru tenggelam dalam khidmatnya refleksi dan resolusi dari setiap konflik yang ada.

But don’t get me wrong, ini adalah film hasil produksi Imajinari milik Ernest Prakarsa yang juga merupakan seorang komika. Sebuah fakta yang terlewatkan bahwa film ini pure bergenre komedi romantic. Banyak selipan komedi yang memberikan “warna” sekalipun ini film hitam-putih. komedi di film ini berhasil bikin geli perut penonton satu studio dengan jokes yang fresh, viral dan out of the box. And that so, kita sebagai penonton sangat menikmati emosi yang dimainkan sepanjang film ini tayang.

Satu lagi,

Besides all the content we talk about before, tentu saja ada kontribusi besar dari sinematografi yang dikemas dengan cerdas. Not just the basic things such as coloring, positioning, and so on. Tapi juga detail penggambaran situasi yang ada di setiap adegan. Pokoknya selama nonton, kita dimanjakan dengan gambar yang estetik dan cantik.

Well, that’s all..

I wish I had time to take up more this film. But seriously, you guys should try to watch this kinda light-complex way of entertainment.


Happy watching ^^

 

 

 

 

 

 


0 comments