PAUS BIRU DAN BUKU FAVORITNYA
Beberapa bulan lalu, sejak awal pandemic dan segala hal
dibelakangnya, pernah terpikir untuk membuat review buku atau film untuk sekedar
mengisi waktu ‘luang’ disela-sela PJJ alias kuliah online. Tapi satu semester
kemarin adalah yang terberat sampai tidak sempat membaca novel apalagi menonton
banyak film. Hanya beberapa episode friends yang ringan, itupun kalau
benar-benar sedang senggang. syukur semester lalu akhirnya bisa terlewati dan namaku
masih menjadi salah satu mahsiswa yang bisa survive.
And here we are!! Di semester baru yang ‘kelihatannya’ tidak
lebih berat dari sebelumnya, ide dulu untuk mulai membuat review bisa
terlaksana. Lebh baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?
Bagian yang selalu paling sulit adalah, how I start it? Gimana
yaa mulainya? Struggle yang bisa habisin waktu beberapa jam bahkan hari cuma buat
bengong cari inspirasi. Eh tapi makin ditunggu makin jauh itu ilham datang (bukan
ilham kamu ya). Tiba tiba waktu lagi setor alami di pagi hari, tringg! Ide itu
datang bak dikirim tuhan pake jasa kurir malaikat.
Untuk memulai review dari segala review, alangkah baiknya
kalau kita mulai dari awal mula kenapa paus biru suka baca buku (meskipun cuma sekelas
novel, bukan jurnal ilmiah atau ensiklopedia). Pertama, jangan tanya “Gimana caranya
paus baca buku?”, karena jawabannya gabisa. Udah keburu ancur duluan itu buku
nyampe di laut ☹. Paus biru tidak lain tidak bukan sekedar nama pena
penulis yang cantik ini. kenapa paus? Karena paus binatang paling besar di dunia
tapi dia ga sombong karena hidupnya di laut lepas. Selain itu, kalo dijadiin
karakter kartun bentuknya lucu, udah gitu aja, sangat filosofis kan? I know 😊
Paus sendiri lupa kapan persisinya mulai tertarik dengan
tulisan yang digabung jadi cerita. Tapi kalau dikira-kira sekitar umur 5 tahun.
Waktu itu paus bukan berasal dari keluarga yang mampu beli boneka barbie
yang lagi ngetop banget, alhasil dibelikan buku cerita anak yang masih bergambar.
Mungkin teman-teman seangkatan paus familiar dengan buku dongeng si kancil atau
si kura-kura yang bentuknya landscape dan gambarnya tidak berwarna.
Nih contohnya kira-kira, yaa versi agak lebih
jadul lah ya
Saat itu ketika baca adegan si kancil yang cerdik dan buaya
yang rakus, rasanya seperti paus ada disana dan melihat kejadian yang
sebenarnya, the power theatre of mind.
Baru sadar setelah itu kalau ternyata membaca dongeng si kancil bisa lebih
menyenangkan daripada main barbie, meskipun ga terlalu paham banget main
barbie kaya gimana :”. Beranjak SD, buku yang dibaca udah bukan kancil dan
kerbau lagi dong pastinya. Jaman dulu sempat terkenal serial KKPK (kecil-kecil
punya karya), penulisnya anak kecil juga sekitar 9-15 tahun. Punya beberapa
KKPK aja berasa jadi anak paling gaul dan keren hihi. Ceritanya bergenre slice
of life nya anak-anak menuju remaja. Untuk anak seumuran 7/8 tahun sangat menghibur
karena kadang tersirat kisah cinta monyet yang masih malu-polos.
Tapi dintara banyak buku yang paus baca selama masih SD, ada
satu buku yang luar biasa. Buku ini memberi kesan yang masih berbekas sampai
hari ini paus sudah berkepala dua. Buku itu adalah….
Iya! Ulysses moore!
Paus lupa kapan pertama kali baca buku ini, mungkin sekitar
kelas 4/5 SD entah di perpustakaan sekolah atau dirumah teman, atau di rumah
saudara, yang jelas buku ini adalah buku dongeng pertama yang amaze me banget. Buku ini adalah series pertama dari
sekian banyak seri lainnya.
As its looks, buku dongeng buatan Pierdomenico Baccalario
yang berasal dari italia ini punya cerita fantasi yang seru untuk anak seumuran
paus waktu itu. Ceritanya tentang sebuah keluarga yang baru saja pindah ke
rumah barunya. Seperti kebanyakan rumah di eropa, rumah mega satu ini memiliki
nama yaitu “Ulysses moore” yang telah berdiri berpuluh tahun lalu. Seorang anak
yang tinggal disana memiliki rasa ingin tau yang besar hingga akhirnya ia
berhasil menemukan banyak bagian lain dari rumah ini yang belum pernah dilihat
orang lain sebelumnya. Seorang pelayan disana juga turut andil dalam perjalan
sekelompok anak-anak ini.
Buku ini adalah buku fantasi pertama yang paus baca,
tentunya tidak khas nusantara karena penulisnya bukan berasal dari sini. Tapi justru
itu yang membuat paus terkagum-kagum saat membacanya. Tapi sayangnya saat itu
hanya ada buku 1 nya saja, itupun hasil meminjam. Sampai saat ini paus selalu
bercita-cita untuk mengoleksi buku dongeng ini, paling tidak untuk anak paus
nanti. Mereka harus tau kalau buku dongeng ini yang ceritanya terus teringat
bahkan setelah belasan tahun.
Jadi itu buku (novel) pertama paling berkesan yang pernah
paus baca. Setelah itu pasti masih banyak lagi. Tapi buat sekarang ceritanya
sampe disini aja okey?
See ya next review alias dongeng dari paus!

0 comments