#DIARYBLOG DAY-3 (hadiah terbesar kekecewaan adalah pelajaran)




18 maret 2020

Hari ketiga lockdown sekaligus pasca patah hati. Pagi tadi sialnya aku bermimpi tentang dia. Hal terberat yang harus dihadapi setiap kali patah hati. Terbangun dari mimpi yang rasanya menyebalkan, seperti didatangi setelah berusaha sekuat tenaga menjauhkan dari benak. Sesaat perasaan rindu itu muncul lagi. Ya!! Memang pikirmu semudah itu menghilangkan kebiasaan rutin selama satu tahun?! Memang semudah itu tiba tiba kehilangan sebuah kebiasaan?!

Hhh padahal masih pagi jam 8 tapi mood seharian sudah hancur.

Tapi ini harus segera diselesaikan. Aku beranjak dari kasur setelah beberapa lama meratapi kesedihan yang pasti berujung menangis atau lebih parah lagi menyesal dan menyalahkan diri sendiri, lagi.
Duduk di depan cermin adalah terapi paling manjur sejauh ini. Berbicara dan berkeluh pada pantulan diri sendiri selalu melegakan tanpa penilaian dan penghakiman yang melukai atau empati yang pura pura. Wajah dihadapanku  terlihat sayu menahan sedih, maka aku persilakan waktu untuk menangis sebentar. Setelahnya aku mulai terapi “problem solving session”. Dimulai dengan pertanyaan “what’s wrong with me?” urutan pertama adalah rumusan masalah.

Masalahnya adalah, aku tidak pernah rela membiarkan orang lain bahagia. Terlebih Karena aku yang selalu memandang hidup ini adalah kompetisi, aku yang mendewakan pengorbanan dan imbalannya, aku yang memaksa bahwa apa yang telah diusahakan harus berhasil, dan yang paling parah adalah bahwa aku harus selalu menang, aku tidak mau menerima kekalahan.
Kalimat terakhirlah yang menjadi tamparan berupa perasaan yang sudah ditelanjangi dari topeng topeng naïf. Sulit sekali mengakui bahwa aku adalah orang yang kalah selama ini. Sulit sekali menerima keadaan yang tidak ada di daftar ekspektasi.

Problem identified.

Pertanyaaan selanjutnya adalah, “how can I solve the probem?” pemecahan masalah dengan dasar teori tentunya.
Untuk merubah sesuatu yang besar, yang pertamakali harus diubah adalah mindset itu sendiri. Capek sekali menganggap bahwa hidup adalah kompetisi yang semuanya harus tentag angka. Baskara ada benarnya juga, hidup ini bukan lomba lari, melainkan marathon. Bukan tentang seberapa cepat seberapa banyak dan seberapa lama. Hidup ini bukan melulu soal kuantitas , tapi tentang kualitas kedamaian hidup.

Pada akhirnya semua orang punya lintasannya masing masing, yang harus kita lakukan adalah fokus berlari di lintasan sendiri. Kalau kita berlari jatuh bangun teluka lalu bangkit lagi atau bahkan berdarah di lintasan oranglain, kamu berharap apa? Menang? Salah sayang, yang ada tenagamu percuma dihabiskan toh akhirnhya pasti kamu kalah, seberapapun kamu berusaha . sebab kamu tidak pernah tau medan seperti apa yang sedang kamu lewati, kamu tidak pernah tahu halang rintang apa yang telah dilewati orang lain hingga akhirnya bisa menang di lintasannya sendiri.

Ucapkan selamat tinggal pada lintasan oranglain yang tidak akan pernah bisa kamu menangkan.

Garis finish setiap orang berbeda, apa yang kita lihat jauh bisa jadi amat dekat bagi orang lain, begitupun sebaliknya. Tuhan tidak pernah salah memilihkan lintasan pada setiap manusia. Simpelnya, biarkan perempuan lain yang memiliki kecepatan dan tujuan sama, berlari bersamanya di lintasan berbeda. Pasti akan ada seseorang yang bisa berlari bersama di satu lintasan denganku meskipun bukan sekarang.

Hidup kadang sengaja membiarkanmu tersandung dulu, untuk bisa membuka mata dan menemukan kesadaran.

Akhirnya sampai pada bagian kesimpulan. Sekali lagi, tuhan amat baik.

Hadiah terbesar dari kekecewaan adalah pelajaran. Selalu.

Tertanda, yang menulis.

Najmi



0 comments