Jam 3 sore tadi rasanya sangat membosankan. Aku yang merasa tidak
punya manusia yang bisa diajak, akhirnya memutuskan untuk mengajak tas dan laptopku
keluar rumah untuk pergi ke sebuah café yang sudah lama aku ingin datangi. Café
itu selalu aku lewati entah itu ketika berangkat atau pulang dari suatu tempat.
Dilihat dari luar, tempatnya menggoda. Ya, aku sebut itu menggoda karena
tempatnya tinggi dan viewnya langsung mengarah ke gunung papandayan (?).
Siapapun yang menyukai ciptaan tuhan yang satu itu, pasti tertarik datang ke café
ini. Dari luar terlihat semakin cantik karena lampu-lampu kecil kuningnya gemerlap
seperti kunang-kunang di ladang.
Setelah mandi dan melakukan ritual yang sering dilakukan para
wanita sebelum keluar rumah (re: dandan), aku pamit kepada bunda tercinta. Seperti
biasa beliau selalu menunjukan wajah curiga, tapi dalam hatinya Ia tau kalau si
extrovert ini lama-lama dirumah bisa meledak kapan saja. Aku pergi naik angkutan
kota atau orang sering sebut angkot. Jangan tanya tentang covid dan
penyebarannya, adik ku sedang ada tamu jadi terpaksa aku naik angkutan ini. Gojek?
ahh sayang sekali mengeluarkan ongkos 10 ribu lebih mahal, lebih baik dipakai
beli es krim hehe (tidak untuk ditiru).
Sesampainya di café yang tadi aku ceritakan, aku mencari dimana
tempat masuknya sebab di depannya hanya ada tempat fitness. Ternyata abang
tukang parkir mau berbaik hati menjawb pertanyaan ku yang kuper ini. Tempatnya
ternyata berada di lantai 2 saja, jadilah aku naik tangga yang di sela-sela
anak tangga nya diberi label berapa kalori yang akan kita keluarkan. Yaa cukup
membantu untuk menyadarkan aku yang sangat jarang berolahraga dan kelebihan kalori
ini.
Sampai diatas, ternyata tempat ini tidak se-spektakuler yang aku
bayangkan. Tempatnya tidak terlalu luas dengan satu set panggung dan perlengkapan
live music di sebelah kanan. Bagian yang paling mengecewakan dari semuanya
tentu saja views nya yang aku kita akan indah menghadap gunung. Tempat paling
ujung itu setelah dilihat hanya berpemandangan lapangan parkir yang luas. Sisanya?
Atap rumah yang tidak beraturan. Ditambahh meja yang sempit untuk laptopku yang
besar ini, akhirnya aku memutuskan untuk duduk di kotakan seperti tempat burung
ini, tapi cukup nyaman dengan colokan yang ada di kedua sisisnya.
Pemandangan dari posisi ini tidak terlalu buruk. Setidaknya ada
satu pasangan yang sedang merayakan perasaan bahagianya dengan berfoto dan
tertawa. Disebelah kiri terlihat beberapa bangunan tinggi dan beberapa layangan
yang lama-lama berkurang karena pemainnya mulai dipaggil pulang untuk mandi dan
mengerjakan pr sekolah. Disebelah kanan tidak ketinggalan satu keluarga dengan
anak laki-lakinya yang lucu. Oiya, untuk informasi tambahan, dibelakangku ada
mas-mas, ralat(bapak-bapak), dan beberapa
temannya yang aku tidak tau mereka sedang apa karena tidak mungkin aku berbalik
kebelakang dengan tiba-tiba hanya untuk mendengarkan percakapan mereka.
Terus aku? Aku cuma membuka laptop dan menulis cerita ini ditemanni
es krim 2 scoop yang harganya sama dengan 2 bungkus es krim di minimarket, dan
kentang goreng berjumlah kira-kira 40 stik. Niat awalnya memang mengerjakan
tugas, belajar statistic atau akuntansi keuangan lanjutan. Tapi hal itu bisa
aku lakukan dirumah. Bengong dan melamun versi premium adalah sebutan untuk
kegiatan saat ini. aku tidak tau, atau lebih tepatnya tidak peduli dengan apa yang
mungkin dipikrkan orang-orang saat melihatku. Semoga dengan mencelupkan kentang
goreng ke dalam es krim tidak membuat mereka ketakutan.
Pergi ke tempat umum sendirian adalah sebiah bentuk terapi untukku.
Dari penyakit minder dan terlalu memiikirkan pandangan orang. Meskipun memang
tidak sepenuhnya berhasil. Tidak jarang setelah melewati waktu satu atau dua jam
di tempat umum, perasaan tidak enak dan minder itu datang lagi. Padahal kita
tidak pernah tau apa yang ada didalam benak orang-orang disekitar kita. Barangkali
tentang deadline kantor yang mepet, uang kostan yang belum dibayar, atau bahkan
alasan hitler mati. Kadang kita terlalu berbesar diri dengan menganggap bahwa all
eyes on me saat kita sendiri, padahal? Boro-boro wkwkw.
Alasan lainnya adalah aku selalu berharap dengan pergi sendiri aku
bisa bertemu dengan manusia yang sebelumnya tidak pernah aku kenal dan berbincang
menyenangkan. Ahh sinetron dan drama memang banyak mencekoki pikiranku dengan
khayalan yang utopis. Beberapa kali aku coba lakukan hal ini tapi belum ada
bahkan satu orang pun yang mengajak bicara (kecuali pelayan toko atau kasir di café
yaa). Aku mulai berpikir sepertinya ada yang salah dalam diriku. Mungkin wajahku
terlihat menyeramkan, atau yaa mungkin se simple memang aku tidak menarik.
Terlalu banyak melamun, sampai tidak sadar kalau adzan magrib
berkumandang. Bunda tercinta sudah mengirim pesan untuk segera pulang. Yaa..
yang paling ditunggu-tunggu, jalan-jalan malam!!!
Doakan agar laptop ini selamat, dan yang paling penting, si aku ini
tidak digodain abang ojek ☹
See ya!

0 comments