#DIARYBLOG - 24 Desember sore

 


Jam 3 sore tadi rasanya sangat membosankan. Aku yang merasa tidak punya manusia yang bisa diajak, akhirnya memutuskan untuk mengajak tas dan laptopku keluar rumah untuk pergi ke sebuah café yang sudah lama aku ingin datangi. Café itu selalu aku lewati entah itu ketika berangkat atau pulang dari suatu tempat. Dilihat dari luar, tempatnya menggoda. Ya, aku sebut itu menggoda karena tempatnya tinggi dan viewnya langsung mengarah ke gunung papandayan (?). Siapapun yang menyukai ciptaan tuhan yang satu itu, pasti tertarik datang ke café ini. Dari luar terlihat semakin cantik karena lampu-lampu kecil kuningnya gemerlap seperti kunang-kunang di ladang.

Setelah mandi dan melakukan ritual yang sering dilakukan para wanita sebelum keluar rumah (re: dandan), aku pamit kepada bunda tercinta. Seperti biasa beliau selalu menunjukan wajah curiga, tapi dalam hatinya Ia tau kalau si extrovert ini lama-lama dirumah bisa meledak kapan saja. Aku pergi naik angkutan kota atau orang sering sebut angkot. Jangan tanya tentang covid dan penyebarannya, adik ku sedang ada tamu jadi terpaksa aku naik angkutan ini. Gojek? ahh sayang sekali mengeluarkan ongkos 10 ribu lebih mahal, lebih baik dipakai beli es krim hehe (tidak untuk ditiru).

Sesampainya di café yang tadi aku ceritakan, aku mencari dimana tempat masuknya sebab di depannya hanya ada tempat fitness. Ternyata abang tukang parkir mau berbaik hati menjawb pertanyaan ku yang kuper ini. Tempatnya ternyata berada di lantai 2 saja, jadilah aku naik tangga yang di sela-sela anak tangga nya diberi label berapa kalori yang akan kita keluarkan. Yaa cukup membantu untuk menyadarkan aku yang sangat jarang berolahraga dan kelebihan kalori ini.

Sampai diatas, ternyata tempat ini tidak se-spektakuler yang aku bayangkan. Tempatnya tidak terlalu luas dengan satu set panggung dan perlengkapan live music di sebelah kanan. Bagian yang paling mengecewakan dari semuanya tentu saja views nya yang aku kita akan indah menghadap gunung. Tempat paling ujung itu setelah dilihat hanya berpemandangan lapangan parkir yang luas. Sisanya? Atap rumah yang tidak beraturan. Ditambahh meja yang sempit untuk laptopku yang besar ini, akhirnya aku memutuskan untuk duduk di kotakan seperti tempat burung ini, tapi cukup nyaman dengan colokan yang ada di kedua sisisnya.

Pemandangan dari posisi ini tidak terlalu buruk. Setidaknya ada satu pasangan yang sedang merayakan perasaan bahagianya dengan berfoto dan tertawa. Disebelah kiri terlihat beberapa bangunan tinggi dan beberapa layangan yang lama-lama berkurang karena pemainnya mulai dipaggil pulang untuk mandi dan mengerjakan pr sekolah. Disebelah kanan tidak ketinggalan satu keluarga dengan anak laki-lakinya yang lucu. Oiya, untuk informasi tambahan, dibelakangku ada mas-mas, ralat(bapak-bapak),  dan beberapa temannya yang aku tidak tau mereka sedang apa karena tidak mungkin aku berbalik kebelakang dengan tiba-tiba hanya untuk mendengarkan percakapan mereka.

Terus aku? Aku cuma membuka laptop dan menulis cerita ini ditemanni es krim 2 scoop yang harganya sama dengan 2 bungkus es krim di minimarket, dan kentang goreng berjumlah kira-kira 40 stik. Niat awalnya memang mengerjakan tugas, belajar statistic atau akuntansi keuangan lanjutan. Tapi hal itu bisa aku lakukan dirumah. Bengong dan melamun versi premium adalah sebutan untuk kegiatan saat ini. aku tidak tau, atau lebih tepatnya tidak peduli dengan apa yang mungkin dipikrkan orang-orang saat melihatku. Semoga dengan mencelupkan kentang goreng ke dalam es krim tidak membuat mereka ketakutan.

Pergi ke tempat umum sendirian adalah sebiah bentuk terapi untukku. Dari penyakit minder dan terlalu memiikirkan pandangan orang. Meskipun memang tidak sepenuhnya berhasil. Tidak jarang setelah melewati waktu satu atau dua jam di tempat umum, perasaan tidak enak dan minder itu datang lagi. Padahal kita tidak pernah tau apa yang ada didalam benak orang-orang disekitar kita. Barangkali tentang deadline kantor yang mepet, uang kostan yang belum dibayar, atau bahkan alasan hitler mati. Kadang kita terlalu berbesar diri dengan menganggap bahwa all eyes on me saat kita sendiri, padahal? Boro-boro wkwkw.

Alasan lainnya adalah aku selalu berharap dengan pergi sendiri aku bisa bertemu dengan manusia yang sebelumnya tidak pernah aku kenal dan berbincang menyenangkan. Ahh sinetron dan drama memang banyak mencekoki pikiranku dengan khayalan yang utopis. Beberapa kali aku coba lakukan hal ini tapi belum ada bahkan satu orang pun yang mengajak bicara (kecuali pelayan toko atau kasir di café yaa). Aku mulai berpikir sepertinya ada yang salah dalam diriku. Mungkin wajahku terlihat menyeramkan, atau yaa mungkin se simple memang aku tidak menarik.

Terlalu banyak melamun, sampai tidak sadar kalau adzan magrib berkumandang. Bunda tercinta sudah mengirim pesan untuk segera pulang. Yaa.. yang paling ditunggu-tunggu, jalan-jalan malam!!!

Doakan agar laptop ini selamat, dan yang paling penting, si aku ini tidak digodain abang ojek

See ya!

 

 

0 comments