PERKARA TUHAN




Hari minggu siang yang terik, banyak orang memilih tidur di kamar  berpendingin udara. Tapi perempuan itu berdiri menunggu temannya di depan apotik dekat stasiun mrt. Meskipun agak sedikit lama, namun akhirnya laki laki yang baru sebulan tinggal di ibu kota itu menemukan jalan bertemu dengan temannya yang sudah sepuluh menit menunggu.

Ini kali kedua mereka bertemu. Meskipun bukan teman lama, tapi mereka tetap berusaha akrab dan bertanya kabar satu sama lain. Selepas menentukan tempat berteduh dari panasnya cuaca di musim kemarau, kedua teman ini akhirnya menyantap makan siang ditemani kisah tentang hidup dan cita-cita.

Hari semakin sore, tapi takoyaki yang mereka beli dengan niat mengganjal lapar belum sama sekali tersentuh. Akhirnya pujasera terdekat menjadi satu-satunya tempat menyantap kudapan terakhir. Tapi disinilah cerita baru dimulai.

Diantara bising percakapan manusia lain, mereka berbincang. Dari barat ke timur, dari selatan ke utara. “Memangnya nabi perempuan itu ada ya, Bi?”

“Tidak mustahil, rasul yang wajib kita tahu hanya 25 dan memang seluruhnya laki-laki.”

“Tapi Bi, google bilang dari 313 nabi dan rasul semuanya laki-laki”

“Nabi itu bisa jadi ada ribuan, Mi. Tidak mustahil kalau ada perempuan. Bukankah nabi itu sendiri adalah manusia yang diberi wahyu oleh Tuhan? Tapi tidak semua nabi diberi tanggungan untuk menyebarkan pada kaumnya. Boleh jadi disimpan untuknya sendiri”

“Maksudnya, Bi?”

Maksudnya, boleh jadi tokoh-tokoh yang kita kenal sebagai para Walisongo atau Sidharta Gautama sebenarnya adalah nabi yang diberi Tuhan wahyu. Proses yang mereka lalui sama seperti nabi-nabi yang kita ketahui. Datang dari keterasingan dan menarik diri dari duniawi.”

Sebentar Bi, kalau Walisongo dan Budha itu menerima wahyu seperti nabi-nabi yang kita ketahui, bukankah itu artinya selama ini wahyu itu datang dari Tuhan yang sama?”

“Seperti itu, Mi.”

Keheningan tercipta beberapa detik, sampai mata si perempuan berbinar seperti bayi yang baru melihat dunia setelah sembilan bulan nyaman di buaian rahim ibunya.

“Itu artinya Tuhan dari awal penciptaan dunia, Tuhan yang mengenalkan sistem kepercayaan pada manusia pada awal peradabannya, Tuhan yang menyampaikan wahyu pada tokoh besar dari generasi ke generasi, Tuhan yang memberi mukjizat sekaligus bencana pada orang orang terdahulu, Tuhan yang menuntun nilai berkehidupan lewat kitab-kitab.

Adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan yang aku minta padaNya agar hujan jangan dulu turun sebelum aku sampai rumah, adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan yang selalu aku datangi setiap kali masa ujian sekolah dan pedih patah hati.

Bi, ini hal yang terlalu besar untuk aku terima.“

“Tuhan tahu manusia berkembang seiring dengan peradaban yang kian maju dengan cepat dan pesat. Untuk itu, kitab-kitab yang berasal dari perkataannya selalu diperbaharui. Sampai akhirnya, seperti yang telah tertulis di kitab-kitab terdahulu. Akan datang sesosok rasul yang akan membawa ajaran yang paling sempurna. Menyempurnakan seluruh ajaran, paham, dan nilai yang telah diwahyukan sebelumnya. Dialah nabi Muhammad SAW.”

“Dari semua agama samawi, agama islam yang turun paling akhir karena sejak awal memang diciptakan untuk menyempurnakan ajaran, menjadi agama sepanjang masa yang tidak lekang oleh waktu. Ayatnya tidak pernah berubah barang satu huruf, tidak pernah ada pembaharuan, tidak pernah ada perbedebatan.

Bi.. sepanjang 24 tahun aku hidup, baru kali ini aku menemukan jawaban dari pertanyaan

Kenapa harus agama islam yang paling sempurna? Arogan sekali kedengarannya.

Bagaimana kita bisa tahu kalau agama islam adalah agama yang paling benar? Sedangkan penganut agama lain pasti punya justifikasi membenarkan agamanya masing-masing.

Jawabannya sesederhana, bahwa kitab-kitab terdahulu pun bahkan telah mencatat kebenaran ajaran penyempurna ini. Bahwa tidak akan ada lagi nabi dan rasul setelah Muhammad SAW.

Bahwa Tuhan yang menciptakan seluruh agama di dunia adalah Tuhan yang sama.

Bahwa Tuhan itu nyatanya Esa.

Agama hanya bagaimana cara manusia menjalani hidup.

Tapi kali ini aku bisa berteriak, aku bangga menjadi penganut dari ajaran yang paling sempurna. Memberi pedoman perilaku hidup dari lahir sampai mati, dari ujung rambut sampai ujung kaki, dari matahari terbit sampai terbenam lagi.

Ajaran sepanjang masa, tidak lekang oleh waktu. Sampai waktu itu musnah sekalipun.”

Mereka saling melempar senyum. Ada kelegaan yang terhembus dari helaan nafas berat. Kini belenggu besar hitam itu sirna sudah. Berganti langit biru cerah tanpa awan.

Takoyaki sudah habis dilahap, air minum tersisa satu teguk lagi.

Mereka beranjak dari tempat duduk tadi.

Mencari udara segar, atau Tuhan mana lagi yang hendak mereka cari.

 

Nb: cerpen ini terinspirasi dari adegan nyata dengan sedikit sunting. 

0 comments