#DIARYBLOG : First day at Somewhere

cc: pinterest


Selalu ada kata pertama kali dalam hidup ini.

Pertama kali mencoba makanan baru, pertama kali bertemu kenalan baru, atau pertama kali mecoba memasak resep baru, dan masih banyak lagi kata pertama kali lainnya.

Seperti hari ini, saat aku menulis cerita. Hari-hari pertamaku di kota rantauan paling favorit, apalagi kalau bukan Jakarta. Disaat banyak orang menjadikan kota ini kota impian, sejujurnya aku tidak terlalu senang saat surat tugas kantor menyatakan penempatan pertamaku disini. Alasannya? Ahh mungkin lain kali aku ceritakan.

Kantorku berada di daerah Jakarta Selatan tepatnya di Pancoran. Mencari kos-kosan tentunya bukan hal yang mudah mengingat tempat ini bukan kampus yang menjadikan kos-kosan adalah komoditi utama bagi warga sekitarnya. Setelah melewati berbagai diskusi dengan bapak, akhirnya aku sampai di kosan campur daerah tebet ini. Jarak dari kosan ke kantor sekitar 700 meter atau sekitar 10 menit dengan berjalan kaki. Jangan tanya mama, beliau sepertinya masih kurang legowo anak gadisnya tinggal di kosan “campur”. Tapi begitulah mama, seorang istri yang tidak mau banyak mendebat keputusan bapak.

Aku berangkat dari Garut hari minggu siang diantar oleh bapak. Tadinya mau berangkat pagi sekali, tapi ternyata bapak malah sakit meriang dan minta panggil tukang pijit. Sekitar jam 11 akhirnya aku, adik ku, dan bapak bersiap berangkat. Kondisi bapak masih belum 100% fit, tapi beilau tetap berangkat karena harus mengantar anak-anaknya ke tempat masing-masing. Mama tidak ikut kali ini, harus menjaga toko katanya. Sayang kalau dibiarkan tutup sampai tiga hari. 

Pukul 12 lebih sedikit jadilah kami memulai perjalanan darat dengan mobil. Terlihat wajah bapak yang belum sepenuhnya pulih. Aku sebenarnya tidak memaksa bapak untuk berangkat di hari itu, tapi beliau harus masuk kantor (di Sukabumi) hari senin. Selama perjalanan, kondisi Kesehatan bapak terus menurun, mungkin karena efek belum pulih tapi memaksakan mengendarai mobil dengan jarak tempuh ratusan kilometer. Beberapa kali kami berhenti untuk menunggu bapak tidur sebentar. Posisiku yang duduk dibelakang tidak berhenti memijat kepala dan pundaknya.

Akhirnya pukul 7 malam kami sampai di kosan, dan bapak akhirnya tidur sebentar sampai pukul 10 malam baru melanjutkan perjalanan lagi. Tiggallah aku sendiri dan mulai menata kamar berukuran 1,5x3 meter persegi ini. Sebuah permulaan yang kurang beruntung, karena AC kamar malah tidak bisa menyala semalaman sampai besok siangnya. Untungnya bapak kos sigap dan segera menyuruh tukang untuk mengganti freon. Malam pertama di kos ini aku pergi ke lantai 3 untuk mengisi botol air. Ternyata diatas sudah ada orang yang duduk. Menyapa sebentar yang ternyata mas nya orang bali yang sedang berkuliah dan bekerja part-time disini. Naik lagi ke lantai 4 disana lah rooftop nya berada.

Rooftopnya nyaman, terdapat dua meja dan kursi tanam dari cor-an semen diberi keramik, tiang teralis unutk menjemur baju, dan banyak tanaman di samping-sampingnya. Yang menakjubkan bukan itu, tapi begitu meilhat di sekeliling rooftop, terlihat dengan sangat jelas Gedung-gedung pencakar langit di depan mata, bahkan Gedung kantorku. Rasanya aku menjadi sangat keciiil, menjadi mungil diantara puluhan Gedung tinggi sejauh mata memandang. Aku sempat berdiam diri disana selama beberapa menit. Merasakan angin semilir dan riuh suara kendaraan diluar sana. Jakarta tidak pernah tertidur, kalimat yang valid pada jam 1 malam, dan suara klakson mobil masih bersautan.

Tidak jauh dari sini terdapat stasiun KRL, jadi tiap pagi dan sore suara keberangkatan kereta riuh mengantar orang-orang pergi-pulang bekerja. Daerah ini sibuk dan penuh dengan kantor, meskipun kini aku tinggal di dearah perumahan, agaknya susah mencari tempat makan seperti warteg atau warung makan lainnya seperti banyak kosan di daerah kampus. Untungnya mba-mba tetangga kamarku memberi tahu kalau mau membeli bahan masakan bisa pergi ke pasar tebet timur. Mengingat aku baru saja membeli sekaleng sarden dan kornet untuk bertahan seminggu kedepan, sepertinya rencana pergi ke pasar bisa ditunda dulu sambal menunggu teman se-BPK ku lengkap.

Di hari ke 3 di tebet, aku badan ku meriang dan drop. Seluruh tubuh rasanya linu untuk digerakkan. Setelah meminta tolong mas penjaga kosan untuk membelikan susu dan obat, aku merasa kuat unutk berdiri dan pergi apotik unutk membeli obat yang lebih proper. Mama sudah khawatir dan terus menayakan apakah aku sudah mendingan atau belum. Syukur setelah meminum obat yang proper, besok paginya badanku sudah segar dan pulih kembali. Akhrnya tadi pagi aku memulai work-out rutinku dari youtube emi wong.

Disini ada 10 kamar, 3 diantaranya adalah Mentari dan tasya teman se-BPK ku. Di seberangku ada mas bali, disamping ku ada mba Ida dari purwokerto yang rajin masak dan selalu makan sayur, dan di depan sana ada pasutri yang istrinya orang bangka dan juga pintar mengolah makanan sisa menjadi cemilan yang enak. Sisanya aku belum pernah bertemu, mungkin seiring berjalan waktu.

Jadi..

Itulah cerita hari-hari pertamaku di kosan tebet. Masih stay di kosan karena jadwal masuk kantor baru dimulai senin depan. Apapun yang terjadi kedepannya di kosan ini, semoga selalu baik dan membuatku semakin nyaman dan kerasan tinggal di kosan dan di daerah ini.

-          17/02/2022

0 comments