#DIARYBLOG - Romantisasi Memori


Hari ke sekian puluh sejak patah hati,

Aku kira akan ada banyak perubahan, ternyata memang nyata nya tidak semudah itu.

Semakin lama semakin disadari bahwa semuanya perlu waktu. Sakit yang keras dibutuhkan juga obat yang banyak. Begitupula sakit hati yang dalam perlu waktu yang lama agar bisa kembali pulih.

Aku tidak akan menyalahkan siapapun untuk sakit yang begitu dalam, sebab  aku pernah mencintai nya sedalam itu pula. Semuanya, alam ini adalah tentang sebab dan akibat. Ketika menyerahkan segalanya . maka sebanyak itu pula kehilangan.

Aku kira membenci adalah cara yang tepat untuk melupakan,tapi sayangnya bukan.

Membenci hanya jalan menuju luka luka selanjutnya. Membenci hanya membuat kenangan hilang sementara, untuk kemudian datang lagi di waktu waktu yang tidak terduga. Membenci adalah cara paling naïf untuk melupakan. Membenci adalah obat bius untuk menghilangkan rasa sakit sejenak.

Membenci barangkali berupa gelembung yang aku buat sendiri, agar bisa merasa bahwa aku berharga, agar aku merasa pantas untuk dicintai, agar aku merasa bahwa apa yang telah aku putuskan adalah yang paling benar, dan bahwa dia seharusnya menyesal atas perbuatannya,

Tapi siapa yang tahu kalau dia juga balik membenci ku? Pecah sudah gelembung tadi, menyisakan aku yang merasa kerdil.

Beberapa hari terakhir, keadaan  berbalik. Patah hati kali ini benar berbeda dari yang biasanya terjadi. Dari yang awalnya mengenang lalu membenci, sekarang rasanya menyenangkan mengenang dengan tenang. Jujur, ini menakutkan. Mengenang selalu jadi penyebab penyakit menyalahkan dirisendri.

Mengenang adalah salah dan membenci jauh lebih buruk, lalu harus apa?

Menyerah dengan keadaan saat ini sama dengan membiarkan kenangan bergantian masuk tanpa mengetuk. Sama dengan tidur dengan mimpi mimpi indah namun menyakitkan. Sama dengan mencium duri mawar.

Wajahnya, senyumnya, candanya, satu per satu kembali terbayang. Yang paling menyeramkan dari ini semua adalah harapan. Satu hal yang begitu fatal dari proses penyembuhan yang sudah terbilang lama ini. Angan yang kembali bangun dari tidurnya yang dipaksa. Mencari celah dari beberapa pembenaran yang jelas salah. Pengharapan atas hal hal yang mustahil, tapi fatamorgana selalu menyegarkan dilihat. Merasa bahwa suatu saat keadaan akan kembali seperti semula sebelum patah hati.

Romantisasi memori.

Memanipulasi ingatan yang indah agar percaya bahwa suatu saat nanti dia kembali. Berusaha menemukan jalan tapi nyatanya hanya halusinasi.

Iya, itu yang saat ini terjadi.

Tapi aku tidak mau jadi bodoh lagi, setelah ini pasti ada jalan bagi siapapun yang mau berubah.

Semoga semuanya hanya satu dari berbagai jalan yang mesti ditempuh,

Semoga ya semoga.

Semoga semuanya cepat berlalu.

- najmi, 270520

0 comments