Hari ke
sekian puluh sejak patah hati,
Aku kira
akan ada banyak perubahan, ternyata memang nyata nya tidak semudah itu.
Semakin
lama semakin disadari bahwa semuanya perlu waktu. Sakit yang keras dibutuhkan
juga obat yang banyak. Begitupula sakit hati yang dalam perlu waktu yang lama
agar bisa kembali pulih.
Aku
tidak akan menyalahkan siapapun untuk sakit yang begitu dalam, sebab aku pernah mencintai nya sedalam itu pula. Semuanya,
alam ini adalah tentang sebab dan akibat. Ketika menyerahkan segalanya . maka
sebanyak itu pula kehilangan.
Aku kira
membenci adalah cara yang tepat untuk melupakan,tapi sayangnya bukan.
Membenci
hanya jalan menuju luka luka selanjutnya. Membenci hanya membuat kenangan
hilang sementara, untuk kemudian datang lagi di waktu waktu yang tidak terduga.
Membenci adalah cara paling naïf untuk melupakan. Membenci adalah obat bius
untuk menghilangkan rasa sakit sejenak.
Membenci
barangkali berupa gelembung yang aku buat sendiri, agar bisa merasa bahwa aku berharga,
agar aku merasa pantas untuk dicintai, agar aku merasa bahwa apa yang telah aku
putuskan adalah yang paling benar, dan bahwa dia seharusnya menyesal atas
perbuatannya,
Tapi siapa
yang tahu kalau dia juga balik membenci ku? Pecah sudah gelembung tadi, menyisakan
aku yang merasa kerdil.
Beberapa
hari terakhir, keadaan berbalik. Patah hati
kali ini benar berbeda dari yang biasanya terjadi. Dari yang awalnya mengenang
lalu membenci, sekarang rasanya menyenangkan mengenang dengan tenang. Jujur,
ini menakutkan. Mengenang selalu jadi penyebab penyakit menyalahkan dirisendri.
Mengenang
adalah salah dan membenci jauh lebih buruk, lalu harus apa?
Menyerah
dengan keadaan saat ini sama dengan membiarkan kenangan bergantian masuk tanpa
mengetuk. Sama dengan tidur dengan mimpi mimpi indah namun menyakitkan. Sama dengan
mencium duri mawar.
Wajahnya,
senyumnya, candanya, satu per satu kembali terbayang. Yang paling menyeramkan
dari ini semua adalah harapan. Satu hal yang begitu fatal dari proses
penyembuhan yang sudah terbilang lama ini. Angan yang kembali bangun dari
tidurnya yang dipaksa. Mencari celah dari beberapa pembenaran yang jelas salah.
Pengharapan atas hal hal yang mustahil, tapi fatamorgana selalu menyegarkan
dilihat. Merasa bahwa suatu saat keadaan akan kembali seperti semula sebelum
patah hati.
Romantisasi
memori.
Memanipulasi
ingatan yang indah agar percaya bahwa suatu saat nanti dia kembali. Berusaha menemukan
jalan tapi nyatanya hanya halusinasi.
Iya,
itu yang saat ini terjadi.
Tapi aku
tidak mau jadi bodoh lagi, setelah ini pasti ada jalan bagi siapapun yang mau
berubah.
Semoga semuanya
hanya satu dari berbagai jalan yang mesti ditempuh,
Semoga
ya semoga.
Semoga semuanya cepat berlalu.
- najmi, 270520

0 comments