16
maret 2020
Ini
hari pertama dari extend liburanku yang harusnya hanya 5 minggu. Wabah virus
Corona kemudian hadir dan menyebar di Indonesia sehingga membuat kampusku
mengambil keputusan untuk meliburkan mahasiswa nya selama satu bulan kedepan
dengan alasan mengurangi penyebaran. Aku kira hanya kampus ku yang menghimbau mahasiswa
nya untuk belajar dirumah, ternyata kampus lain bahkan sekolah dari SD, SMP
sampai SMA pun diliburkan meskipun hanya
2 minggu.
Ini
hari pertama bagi sebagian banyak orang untuk tinggal di rumah dan orangtua ku menjadi sangat protektif melarang kami keluar
dan bepergian (kecuali bapak kami). Satu dari banyak alasan akhirnya aku
membuat diaryblog ini adalah untuk mengurangi stress. Banyak orang diluar sana
justru menilai dengan adanya liburan panjang adalah hal yang menyenagkan. Tapi sayang,
hal menyenangkan itu hanya terasa di satu sampai dua minggu pertama. Terlebih saat
ini aku baru saja mengakhiri hubungan alias patah hati.
Ini
juga hari pertama aku menjadi seorang single lagi setelah menjalani satu tahun
sebut saja “pacaran” (meskipun tidak pernah ada tanggal jadian). Baru kemarin
malam , aku membongkar kebohongan pasangan yang
ia sembunyikan selama satu tahun lamanya.
Hubungan
kami ,bagiku, adalah racun yang setiap hari harus aku minum, adalah duri yang
setiap hari harus menusukku, adalah luka yang setiap hari menganga. Tidak ada
satu minggu tanpa aku menangis. Satu kalimat yang bisa mewakili keadaan selama
satu tahun belakangan adalah ,
Dia
tidak menganggapku sebagai manusia
Yang
memiliki hati dan perasaan, yang memiliki nurani dan harga diri, yang memiliki
emosi dan esensi.
Orang
sering menyebutnya toxic relationship. Keadaan dimana kamu merasa lelah dan
buruk setiap dekat dengan pasangan. Tidak jarang orang yang kesulitan untuk
dapat keluar dari lingkaran setan ini. Alasannya karena masih sayang dan
menganggap bahwa pasangan adalah orang yang masih pantas untuk dicintai sekalipun
kita tersakiti. Begitupun aku.
Sudah
agak lama sebelum kejadian kemarin malam, aku menyadari bahwa hubungan kami
tidak sehat, khususnya aku. Tapi lagi lagi aku tidak mampu mengakhiri karena
belum memiliki alasan yang cukup kuat. Tidak bisa mengakhiri karena setidaknya
dia tidak mendua.
Kejadian
kemarin malam membuka tabir yang selama ini sudah aku curigai. Ternyata dia
berbohong dan sudah mendua dari awal kami berhubungan, yang artinya satu tahun
lamanya.
Satu
tahun lamanya dia berani membohongi dua wanita, yang salah satunya adalah aku.
Satu tahun lamanya dia berpura pura baik di depanku. Satu tahun lamanya dia mengingkari
janji. Dan satu tahun pula hidup dia tidak pernah tenang dan penuh tekanan. Awalnya
aku pikir rasa sayang dan cintaku pada pasangan adalah yang nomor satu. Tapi ternyata
setelah dia melanggar prinsip yang selama ini kupegang, aku lebih memilih
mundur. Ada yang lebih besar dari sekedar perasaan aku kepadanya, akhirnya
untuk pertama kalinya aku bisa berdiri diatas prnsipku sendiri.
Aku
tidak mau diduakan, titik. No excuse.
Begitulah
kisah cintaku selesai. Berkahir dengan aku yang diduakan dan alasan toxic
dibelakangnya. Beberapa saat setelah kami putus, ada perasaan lega di dalam
hati. Sejujurnya aku ingin sekali sedih dan menangis seperti biaasnya. Tapi aneh
sekali, saat itu tidak ada rasa sedih sedikitpun bahkan yang bisa membuatku
menangis. Justru ada perasaan terharu dan bahagia akhirnya aku bisa keluar dari
lingkaran toxic ini.
Baru
saja aku akhirnya menangis, aku lega karena ternyata aku masih normal dan
memiliki cadangan air mata yang lumayan banyak. Hari hari kedepan masih
panjang, apalagi dengan adanya lockdown yang mengharuskan aku berdiam dirumah.
Kamu
tahu apa satu hal yang sangat menakutkanku beberapa waktu kedepan?
Bagaimana
bisa aku melewati fase patah hati ini ditengah kondisi lockdown akibat virus
corona yang sedang merebak?
Kacau.
Tidak
pernah terbayang betapa sulitnya.
.
.
.
- Tertanda,
yang menulis
Najmi.

0 comments