#CeritanyaReview : Oppenheimer (2023)

 



Holaaa!

Woah such a looong time since the last review. Akhirnya kembali lagi punya mood dan waktu disela-sela me “review” laporan keuangan yang bikin pusing bacanya *curhat*.

Nah jadi setelah melihat euphoria jedar-jedernya film Oppenheimer, tentu saja sebagai remaja FOMO ini gak mau ketinggalan antri beli tiket pre-sale biar gak keabisan. Momentum yang tepat for anyone who decide the release date, karena pas banget di tanggal merah itu ada 2 film yang sama-sama banyak ditunggu. Jadi bisa dibayangin hari rabu tanggal 19 Juli seluruh bioskop dari yang paling mahal sampe yang nge-pas di kantong bakal dibanjiri rakyat Indonesia. Fenomena ini juga udah keliatan waktu buka aplikasi tiket online buat book film Oppenheimer yang ternyata udah penuh di daerah Jakarta, and so kemarin agak melipir ke Bekasi biar dapet kursi yang enak dan gak bikin leher tegang.

Well back to the review, tapi sebelum masuk kesana kita semua harus satu paham kalo ini film non-fiction alias historical alias certain sejarah. In that sense, mas Christopher Nolan gabisa seenaknya bikin cerita sendiri. So the big picture of this film is, gimana sejarahnya bom Atom di Hirosima dan Nagasaki itu tercipta dari kepala dan tangan Oppenheimer atau yang akrab dipanggil Oppie ini. Dari mulai Oppie sekolah dan menimba ilmu di berbagai kampus dan berbagai guru, sampe akhirnya jadi tokoh politis di era perang dunia II.

Film yang punya durasi 3 jam ini, better ditonton sambil diskusi bareng partner. A lil bit exhausting kalo memahami a whole plot nya sendiri. Bisa dibilang film ini gak menjanjikan entertainment atau premis yang seru kaya film Nolan lainnya (Interstellar, Tenet, atau inception). Again, karena ini film historical yang ceritanya gabisa diubah. Jadi kalau kalian berharap akan nemu experience film Nolan sebelumnya, you better lower ur expectation. Bagi sebagian orang mungkin ada yang merasa bosan dan suntuk buat nonton film ini. Bayangin aja selama 180 menit disuguhi teori fisika kuantum dan konflik ideology di zaman perang dunia II. Wah bisa dobel-dobel itu puyengnya kalo belom biasa. Conversation yang dibuild juga relatif cepet dengan intensitas yang tinggi. Intinya banyak percakapan yang harus dipahami dengan cepat kalo mau keep going on the story. So, brace yourself to face this kinda high-tension film :)

Despite of all the contra, Nolan selalu bisa mengkompensasi itu semua dengan visual dan backsound yang wah megah dan elegan. Kalo dilihat dari sudut pandang yang lain, sangat wajar kalo banyak juga orang yang kasih rating 5 out of 5. Gimana engga, Nolan bisa ambil historical event ini dari POV yang super unik dan kasih kita plot yang maju-mundur *cantik*. As we know, bukan Nolan namanya kalo buat film gak mind-blow. That’s why dia bikin plot yang anti lurus biar jadi kejutan di ending filmnya. Ngomongin cast nya udah gausa ditanya lagi kali, Cillian Murphy alias Thomas-great-Shelby ini selain emang mirip sama tokoh aslinya, juga bisa bawa kita ikutan tegang ngikutin step-by-step penciptaan senjata pemusnah peradaban.



End of the story, this is a great movie. Semua pro-kontra itu wajar banget mengingat tiap orang  punya preferensi masing-masing. But here’s mine!! Semoga sedikit ulasan yang jujur dan apa adanya ini bisa jadi referensi buat kalian yang lagi bingung mau nonton Oppenheimer atau Barbie (which both is same fun!!).

So, Happy watching! ^^

 

0 comments