#DIARYBLOG : TAKE A WALK

 


Setelah seharian ini cuma rebahan di kasur, nonton The Adams Project, traveling sosmed dan ngabisin satu paket panas McD, badan ini mulai terasa seperti kantong lemak dan dosa yang besarnya sebelanga. Akhirnya berbekal nekat dan rasa gabut yang daritadi merongrong, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar mengelilingi sebagian kecil kawasan tebet timur. Selesai solat magrib ternyata langit masih belum gelap. Kata orang dulu, jangan keluar kalo matahari belum sepenuhnya tenggelam, nanti digondol raksasa. Yahh mau gimana lagi, daripada beneran diculik wewe gombel, mending scroll twitter dulu sebentar.

Kira-kira jam setengah 7 mulai bersiap mengganti satu set baju piyama dengan celana training bekas SMA, baju pendek yang masih tergolong piyama, jaket himpunan, kerudung bekas kemarin, dan tidak lupa sandal hitam 9ribu rupiah yang tipisnya seperti tempe mendoan yang belum digoreng. Outfit yang cocok untuk melamar jadi si mbok di rumah orang kaya.

Jangan tanya keluar malem gitu kok gak takut culik atau jambret. Jawabannya iya sedikit takut, tapi aku percaya kalau niat baik akan dilindungi tuhan :’)  Yapp yang paling penting jangan lupa bawa earphone dan siapkan playlist healing yang tetap upbeat. Karena untuk apa jalan-jalan malam hari kalau tidak setel sederet lagu Tulus campur Kunto Aji. Rencananya dari kos lewat jalan raya depan berputar sampai akhirnya balik lagi lewat jalan belakang. Jaraknya mungkin gak sampe 2 km. Estimasi waktunya kurang lebih 30 menit.

Suasana jalanan di malam hari minggu tepatnya selepas margib relatif sepi apalagi ini daerah perumahan. Ada beberapa café yang masih ramai muda-mudi, atau gedung kantor yang tinggal bersisa satpamnya. Sisanya cuma jalanan kosong yang tiap meternya ditanam pohon gede-gede. Karena selama sore tadi hujan terus mengguyur daerah ini sampe akhirnya jalanan lumayan becek, jadi pilihan yang tepat memakai sandal jepit.

Dibeberapa menit awal masih rada kagok karena ini pertama kalinya jalan malem sendirian. Dan mungkin memang itu respon natural manusia yang belum terbiasa sendiri ditempat baru. Merasa jadi artis yang diperhatiin dari ujung kepala sampe ujug kaki. Padahal sebenernya most of them don’t even give a shit wkwk.

Kalau dipikir-pikir, perjalanan singkat tadi banyak kasih insight baru. Diawal perjalanan rasanya kita selalu pengen cepet sampe ditempat tujuan. Which is good to stay motivate. Tapi most of time sebenernya bukan selalu karena motivasi, kebanyakan karena kita takut untuk merasakan proses yang belum terlihat bentuknya. Kita takut dikejar ekspektasi.

Padahal setelah lama berjalan, kita mulai sadar bahwa menikmati proses itu bukan hal yang buruk. Makin jauh kita melangkah ternyata banyak hal yang bisa kita lihat dan perhatikan. Kucing-kucing rumahan yang matanya waspada tiap ada orang baru lewat, atau lampu jalanan yang sebagian menyala sebagian lagi rusak. Selama perjalanan menuju tempat tujuan tentu gaakan mulus semulus kulit lisa blackpink. Ada nyamuk yang usil, jalanan berlubang yang bikin sandal tipis tadi basah kuyup, atau pohon besar yang bikin merinding kalo dilihat. Dan hal yang wajar kalau kita jadi takut. Kalau kita gak takut, gimana kita bisa belajar?

dari proses yang gak selamanya enak tadi, kita jadi tau how to handle it. Banyak-banyak gerakin tangan biar nyamuk ga nempel, lebih hati-hati pilih jalan mana yang ga berlubang, dan yang paling penting jangan iseng liatin pohon gede samping jalan. Pada akhirnya, justru proses yang mendewasakan kita. Lebih banyak peka dengan sekeliling kita, lebih banyak yang bisa kita dapat. The more we feel,the more we get.

In the end of this story,

Setting goals is truly important. But then, enjoy the process.  

Takut itu wajar, tapi toh ternyata kita bisa loh sampe. Kadang kita lupa kita sehebat itu.

So, sekali-kali coba jalan-jalan malem, siapa tau temu pelajaran baru :))

 

 13/03/2022

0 comments