NASKAH DRAMA MUSIKAL
NARASI
:
siapa bilang jatuh cinta hanya
ada di lorong-lorong sekolah? Siapa bilang jatuh cinta hanya ada pada anak
belia usia belasan? Siapa bilang? Bahkan hamparan dunia terlalu sempit untuk
merayakan cinta, dan lintasan waktu yg terbentang terlalu sebentar untuk
merasakan kasih. Seperti muda-mudi satu ini, disuatu lembaga pemeriksa keuangan
negara. Hari selasa, 10 februari 1997.
[SCENE
1]
Tangan ratna sibuk memilah
kertas disposisi mana yang akan ia serahkan kepada bapak Setya, atasannya.
Ratna : “nomor
surat dinas 345. 346, 348 nahh udah lengkap. Pak setya im coming…” (berjalan
menuju ruangan pak setya)
Ratna :
“permisi pak..”
Pak setya :
“mari masuk ratna”
Ratna :
“berikut nota dinas yang perlu tanda tangan bapak..”
Pak setya :
“coba saya lihat dulu (melihat kertas yg diberikan ratna) terkait hal apa ini?
Kok tidak ada dokumen pendukungnya?”
Ratna :
“ee.. harus ada yaa pak?”
Pak setya :
“waduhh ratna.. gimana sih kamu ini? Percuma susah susah masuk bpk kalo disuruh
gini aja gabisa!! (melempar kertas) ini! Saya kembalikan, saya tidak mau tanda
tangan kalau dokumen pendukungnya belum ada!”
Ratna :
(terdiam sebentar dan memunguti kertas yang tadi dilempar pak setya) “baik..
siap pak”
Siang itu hati ratna kacau.
Baginya, kata kata pak setya tadi cukup membuat hatinya bak tertusuk duri. Ia
kembali ke mejanya sambil sedikit mengeluarkan air mata.
[datang
galih dan berjalan menuju ratna]
Galih : “waduh
udah jam makan siang ni, kok masih disini aja?”
Ratna :
(terdiam tidak menengok dan tidak menjawab galih)
Galih :
“eh.. loh, ratna.. kamu nangis? Kenapa?? Ga kebagian bakwan di warung asoy yaa?
Hahaha
Ratna :
(menghapus air mata) “ ih apasih.. udah sana aja makan, aku mau disni masih ada
kerjaan”
Galih :
“waduhh emang pak setya ni harus kita laporkan atas eksploitasi CPNS ckckck”
Ratna : (tersenyum)
“tadi aku salah kasih nota dinas, harusnya dokumen pendukung nya dibawa juga,
aku baru hari ini dapat kerjaan antar surat jadi masih belum tau”
Galih :
“ohh harusnya dari awal kamu tanya aku, aku udah khatam banget masalah
persuratan kaya gituu, mana sini nota dinas nya aku bantu”
[galih
membantu ratna hingga akhirnya selesai]
Galih :
“nah udah selesai ni, tinggal diserahkan lagi ke pak setya”
[Ratna
buru-buru berjalan ke ruangan pak setya, tapi ditahan galih]
Galih :
“mau kemana?”
Ratna :
“mau ke ruangan pa setya”
Galih :”udahh
nanti aja, pak setya nya juga pasti lagi makan siang. Kamu itu loo belom sempet
ke kantin kan tadi?”
Ratna :”t..tapi
nanti pak setya marah”
Galih :”haha
udahh gaakan marah, pak setya itu baik kok aslinya, Cuma emang mukanya aja
jutek. Oiya nih tadi aku jajan coklat favorit aku ini di warung,tadinya mau aku
makan buat cemilan, tapi gapapa ambil aja buat kamu. Katanya coklat bisa bikin
mood orang jadi bagus lagi.”
Ratna :”ehh
gusahh galih, kamu makan aja”
Galih :”ayo
cepet ambill.. kalo ga diambil nanti aku lapor polisi lhoo”
[Ratna
dan gailih tertawa sambal mengobrol tanpa suara]
Begitulah segalanya bermula.
Berkas nota dinas yang dilempar pak setya, dan tentu saja sebatang coklat tanpa
nama mengatarkan mereka pada dunia penuh warna yang pujangga sebut, jatuh
cinta..
[SCENE
2]
Lagu kasmaran cinta plus koreo.
Pasangan sejoli itu adalah
galih dan ratna. Bagi mereka, seluruh sudut kantor adalah taman berbunga yang
indahnya bisa membuat mereka tak pernah kehilangan senyuman. Seringkali mereka
terlihat di berduaan kantin, parkiran sepeda, tempat fotokopian, di halte bis,
di warung mi ayam pak sobar, dan tentu saja di ruangan kerja mereka. Semua orang
tahu betapa pasangan galih dan ratna seperti jari tengah dan telunjuk tak
terpisahkan.
[SCENE
3]
Namun di sela perayaan manisnya
kasmaran mereka, pertanyaan ratna suatu
sore di halaman kantor, membawa mereka pada sebuah perjalanan baru..
Ratna :”gak
kerasa yaa, sudah setahun sejak kamu kasih aku coklat ituu”
Galih :”ahh
iya juga, waktu rasanya cepat berlalu kalau sama kamu”
Ratna :”ahh
kamu gomball! Tapi gal, sampe kapan yaa kita bisa terus begini?”
Galih :”loh
kenapa kamu tanya begitu:”
Ratna :”gapapa
gal, aku Cuma kepikiran, kalau nanti surat mutasi keluar dan kita belum
menikah, kemungkinan kita akan berpisah itu besar”
Galih : [menghela
nafas] ratna.. aku sudah menjelaskan berkali-kali keadamu, abangku saat ini
masih belum menemukan callon pendampingnya, kamu kan tau adatku itu melarang
keras kalau aku melangkahi abangku..”
Ratna : “iyaa
galih.. aku paham.. tapi..”
Galih : ”sudah,
jangan terlalu kau pikirkan tentang hal itu, lagipula selama ini teman angkatan
kita belum ada yg di mutasi kan?”
Ratna : ”iyaa
sih..aku Cuma takut gal..”
Galih :”sudah..
nanti di lapangan sebelah ada pasar malam. Kita kesana yaa biar kamu gak sedih
lagi. Nanti kita beli permen kapas yang beesarr”
[Ratna
hanya mengangguk.]
[Mereka
berdua meninggalkan kantor.]
[SCENE 4]
Di
satu pagi, pak setya keluar dan mengumumkan sesuatu
Pak setya :” SK
mutasi sudah keluar hari ini, silakan baca pengumumannya di dinding sebelah
ruangan saya”
[Suasana
ramai termasuk galih dan ratna,galih dan ratna melihat nama yg tertera di
kertas pengumuman.]
Ratna :”kan..
suah kubilang gal…” [sambal merinth sedih]
Galih :”jauh
sekali aceh dan Maluku..”
[Orang-orang
mulai menakut-nakuti mereka berdua.]
[Mereka
sama sama terdiam sebentar.]
Ratna :”aku
mau protes ke pak setya.”
Galih : [menahan
tangan ratna]. “percuma ratna, yg menentukan biro SDM, pak setya bisa apa?”
Ratna :”tapi
gal..” [ratna terdiam]
Galih :”sudah,
kita dinginkan kepala dulu sebentar, kita pikirkan apa maunya kita masing-masing.
lalukita bicarakan hal ini besok yaa,
omongan ibu” dan bapa” barusan jangan didengar”
[Lagu sedih cinta]
[SCENE 5]
Mereka sama sama tahu akan hal
besar ini. Untuk itu mereka sepakat saling memberi waktu agar bisa berpikir
dengan jernih, apa yang sebenarnya mereka inginkan. Tepat dua hari setelah
pengumuman itu, mereka berjanji untuk bertemu di tempat pertama mereka saling
menyatakan cinta.
Seperti janjinya, mereka berdua
datang ke tempat pertama mereka saling menyatakan cinta. Di parkiran sepeda
belakang kantor.
Galih :”bagaimana
ratna, apakah kau sudah mentukan keputusanmu?”
Ratna :”sudah
galih”
Galih :”baiklah
seperti janji, kita akan mengucapnya bersamaan. Kuharap jawaban kita sam. Baik
satu.. dua.. tiga..”
Ratna :
“kita sudahi saja”
Galih :”ayo
kita jalani bersama”
[Mereka
berdua terdiam.]
Galih :”ratna..
itukah keputusan bulatmu??”
Ratna :”maaf
galih, tapi aku tidak yakin dengan hubungan jarak jauh kita. Apalagi aku jauh
diujung barat dan kau jauh diujung timur sana. Pasti akan sulit menyepatkan
waktu untuk bertemu”
Galih :”tapi
kita masih bisa berkabar lewat surat, pager,email??? Aku janji akan selalu
member…”
Ratna :”galih..,
kita tidak pernah tahu apa yang akan kita rasakan dan alami di tempat masing-masing. Dan aku rasa aku tidak
mampu membayangkannya.”
Galih :”ratna,
apakah ini berarti sudah tidak ada lagi rasa cinta di hatimu?”
Ratna :”
tidak galih, bukan. hatiku masih terisi penuh dengan namamu. Aku janji akan hal
itu. Tapi untuk kali ini, maaf galih.. aku belum bisa melanjutkan hubungan ini.
Tapi satu yang kutahu galih, kalau tuhan mau kita bersama,akan selalu ada
jalannya untuk kembali, di tempat dan waktu yang tepat.”
Galih :”tapi
kita bisa mengusahakan itu ratna, kita bisa berjuang bersama”
Ratna :”maaf
galih,,”
[Masuk lagu galau..]
[Adegan ratna dan galih berpisah di bandara]
Semenjak kepergian galih dan
ratna, terasa sekali sepi yang menyergap seluruh ruang kantor. Tidak ada lagi
gelak tawa ratna yang seringkali dijahili galih. Tidak ada lagi sorakan dari
pegawai lain saat galih dan ratna lewat depan kantin. Kesedihan ini tidak hanya
ada pada galih dan ratna. Tapi seluruh kantor ikut menagis melepas kepergian
sekaligus berakhirnya hubungan galih dan ratna.
Sejak saat itu, tidak pernah
ada lagi yang membahas dua sejoli galih dan ratna. Kisah itu perlahan kabur bagai
debur ombak yang kembali pada lautan. Terlupakan seiring berjalannya waktu.
[SCENE 6]
Nun jauh diujung barat sana,
terlihat kediaman ranta yang sudah ramai pendatang. Ya.. hari ini adalah hari
pernikahan ratna.
Lagu pernikahan
[Prosesi
akad ratna]
[SCENE 7]
Sedang diujung timur sana,
terlihat galih yang sedang sibuk mengerjakan kertas kerjanya.
[Datang
seorang wanita membawa surat]
Laras :”gal,
ini tadi ada surat untuk kamu”
Galih :”surat
apa ras?”
[Laras
menyerahkan surat]
Galih
membuka surat dan dibacakan narasi surat dari ratna yang memberi tahu bahwa ia
sudah menikah.
Untuk galih,
Sudah bertahun lamanya kita
tidak bertemu sejak perpisahan di bandara. Maafkan aku yang tidak pernah
membalas surat-suratmu. Tapi itu harus kulakukan sekalipun rasa ingin
membalasmu begitu besar hingga membuatku tercekat. Jangan tanya apa aku rindu
atau tidak. Kepalaku menjadi saksi betapa setiap hari setiap waktu aku
memanggil namamu meski hanya dalam benak. Dan mataku menjadi saksi betapa
derasnya air mata yang jatuh tiap aku sadar bahwa kita takkan bisa bersama.
Kudengar dari kabar angin, kau melakukan banyak hal agar kepindahanmu kesini
bisa lebih cepat. Tapi galih.. kurasa semua itu tidak ada maknanya. Keluargaku
sudah menentukan dengan siapa aku akan bersanding. Aku tidak dapat berbuat apa
apa. Sekalipun aku bisa, aku akan
tersiksa. Beginilah menjadi wanita disini galih.
Dulu aku pernah bilang, pabila
tuhan menghendaki kita bersama, maka jalan akan selalu ada. Tapi sepertinya
dari awal memang tidak pernah ada jalan yang terbentang untuk kita. entah
karena memang tuhan kita yang berbeda, mereka sulit bekerja sama, heh lucu
sekali.
Seperti yang kau tahu galih,
aku bertemu dan menikah dengan laki-laki lain. Kurasa ini cukup untuk
menjelaskan bahwa akhirnya kau bisa berhenti bekerja terlalu keras untukku.
Segala usahamu akan tercatat sebagai pengabdian pada cinta yang tak pernah
sampai. Beristirahatlah pada rumah yang tepat galih. Maafkan sekali lagi,
ternyata aku bukan rumahmu. Tapi bila kau ragukan cintaku, ketahuilah akan
selalu ada ruang kecil di sudut hatiku untukumu. Takkan ku hilangkan sampai
kapanpun.
Tertanda,
Ratna.
[Galih
terdiam dan menatap kosong]
Laras :
“surat dari siapa gal?”
Galih :”ratna
ras, ratna sudah menikah”
Laras :”apa??
Ratna yang selalu kau ceritkan itu?? Bagaimana bisa??”
Galih :”kau
bacalah sendiri surat ini”
[Laras
membaca dan geleng” kepala tidak percaya]
Laras :”sudah
gal.. aku tahu ini berat untukmu. tapi kau harus tau mungkin tuhan tidak
mengijinkan kalian berdua bersama, sejauh apapun kau berusaha.”
Galih :”tapi
ras, aku sudah melakukan banyak hal agar bisa secepatnya menyusul ratna disana,
tapi apa yg ia lakukan?!”
Laras :”iyaa
aku paham perasaanmu, tapi kau bisa ceritakan keluhmu sambal memakan coklat
favoritmu. Aku tak tahu apakah ini berguna atau tidak..”
Galih :”ahaha..
ras, kau selalu tahu apa yg aku butuhkan..”
[Laras
dan galih berbincang tanpa suara].
Masuk lagu sedih upbeat
Dengan ini berakhir sudah
perjuangan galih demi bisa bertemu kembali dengan ratna. Kapal mereka kini
sudah benar-benar karam.
Memang begitu cara semesta
bekerja bukan? Beberapa pasangan bisa berakhir dengan suka cita, namun beberapa
lainnya harus berduka dan terluka. Tapi cinta adalah energi, dan energi tidak
pernah hilang hanya menjelma menjadi sesuatu lain. Energi tidak pernah hilang,
hanya mengalir dari satu muara ke muara lainnya. Semakin deras energi itu
mengalir, semakin besar residu yang tersisa. Mengerak menjadi sesuatu yang
sukar diurai. Selamanya bersemayam dalam relung terdalam.
[SCENE
8]
Seperti pada acara tahunan di
sebuah lembaga pemeriksa keuangan. Tepat pada tempat dan waktu yang tak pernah mereka duga. Akan menjadi
sebuah reuni singkat tanpa kata.
[masuk
galih dan ratna bersama pasangannya, duduk di meja dan saling berpandang]
Derap langkah ratna diiringi
dengan gemerincing perhiasan di tangannya digandeng oleh seorang pria yang
tidak lain adalah suaminya. Malam ini ia mendapat meja makan dengan nomor 12.
Didepannya terlihat perempuan seorang diri sedang menunggu. Tidak berselang
lama, yang ditunggu perempuan itu dating. Dan lelaki itu adalah galih. Tidak
perlu waktu yang lama untuk mereka saling mengenali satu-sama lain.
Galih :
“Ratna..
Jelas betul didepan mataku itu
ratna. Wanita yang kugilai beberapa belas tahun lalu.
Wajahnya sama sekali tak
berubah, tetap manis seperti permen kapas favoritnya. Matanya masih menatap
dalam sampai aku bisa tenggelam dipusarannya. Bahkan senyumnya masih bisa
membuat hatiku meloncat.”
Ratna :
“Galih..
Jelas betul didepan mataku itu
galih. Lelaki yang selama ini masih bergema namanya di benakku.
Ia terlihat jauh lebih dewasa
sekarang, tapi tatapannya tidak berubah. Masih tajam hingga hatiku terasa
tercabik tiap kali menatapnya balik. Kerut matanya saat tertawa bahkan masih
membuat perutku geli. Bahunya masih setegap saat terkahir kali kusandarkan
kepala padanya.”
Disela perbicangan mereka
dengan pasangannya masing-masing, terlihat mata yang saling mencuri waktu agar
dapat bertemu pandang. Mulut mereka terlalu tercekat untuk bisa berkata.
Seperti rasa rindu yang terlalu besar untuk sekedar dilebur dengan jabat tangan
atau salam pipi.
Mereka memilih sunyi menjadi
tempat pelarian dari dunia yang kejam.
Mereka memilih hening menjadi
bahasa yang akan mereka gunakan untuk menceritakan belasan tahun yang telah
terlewat.
Menceritakan betapa tersiksanya
merindu tanpa akhir. Betapa merana nya mencintai ruang hampa tanpa rasa.
Menceritakan tentang ratusan,
ribuan bahkan jutaan jika "apabila" dan kalau saja yang terus berkecamuk di
kepala sampai gila.
Andai mereka tahu apa yang akan
terjadi, tentu ratna menolak sebatang coklat itu dan galih takkan sudi membantu
pekerjaan ratna.
Andai mereka tahu kubangan luka
yang mereka ciptakan sendiri berawal dari kisah penuh canda tawa.
Andai mereka tahu, tapi itu
tidak mungkin.
Jadi mereka mencoba mengadu,
tapi jawabannya adalah lepaskan rindu itu.
Malam ini adalah reuni. Reuni
yang mereka betul betul mereka pahami.
Galih :
Sebab Hal hal yang ajaib selalu
terjadi sekali seumur hidup
Seperti bertemu
Dan berkisah dengan mu
Sesingkat apapun dulu
Adalah hal yang terlalu indah
Ratna :
Seperti hal ajaib lainnya
Tuhan sengaja menciptakan
Hanya satu kali
Cukup untuk dikenang. bukan
untuk diulang
[galih
dan ratna beserta pasanganya beranjak dari tempat duduk]
Galih :Selamat tinggal ratna, terimakasih sudah
mau bercerita dengan tatapan matamu. Semoga rumahmu selalu hangat.
Ratna :Selamat tinggal galih, terimakasih juga
sudah mau berbicara meskipun tanpa kata. Semoga semesta selalu memelukmu.
-----------------------------
The end -----------------------------